Sabtu, 16 Oktober 2010

sejarah al quran

Sejarah Al-Qur’an: Rejoinder

Mengkaji sejarah Al-Qur’an dengan melihat proses-proses pembentukannya, baik pada masa Nabi dan masa-masa sesudahnya sangat penting, untuk mengingatkan kita selalu bahwa Al-Qur’an adalah manifestasi manusiawi dari kalamullah. Seperti juga kitab-kitab suci lainnya di dunia ini, Al-Qur’an memiliki keterbatasan-keterbatasan pada lingkup kebahasaan dan kesejarahan di mana ia diturunkan.

Oleh: Luthfi Assyaukanie

Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada siapa saja yang telah memberikan komentar dan kritik terhadap artikel saya tentangMerenungkan Sejarah Al-Qur’an” yang dipublikasikan di website Jaringan Islam Liberal (JIL). Pada mulanya, artikel itu adalah bagian dari refleksi kegiatan spiritual saya selama bulan Ramadhan. Pada bulan itu, saya mencoba membaca Al-Qur’an dengan model bacaan saya sendiri yang menurut saya lebih berkesan dan mempengaruhi intensitas keberagamaan saya. Secara khusus, saya membaca beberapa buku Nasr Hamed Abu Zayd dan juga beberapa artikel yang ditulis oleh sarjana Al-Qur’an dari Barat. Saya selalu terobsesi untuk membaca karya-karya semacam ini, sebagai “balance” (penyeimbang) dari bacaan saya selama ini yang terlalu banyak dengan karya-karya apologetis. Saya pikir, rasanya kurang adil kalau saya hanya mensuplay ke dalam memori pikiran saya pengetahuan apologetis saja.

Inilah latar belakang mengapa artikel itu saya tulis. Semula saya ragu menuliskan apa yang saya baca. Tapi, rasanya masih terus ada yang mengganjal kalau belum ditulis. Ketika menulis artikel itu, saya mendapat panduan dari karya-karya sarjana Al-Qur’an dari Barat untuk membuka kitab-kitab klasik seperti kitab al-masahif, al-fihrist, al-itqan, dan al-burhan. Saya beruntung karena semua kitab itu bisa saya dapatkan, sehingga saya bisa merujuk setiap klaim yang dibuat oleh para sarjana Al-Qur’an dari Barat itu.

Saya pikir, para sarjana Al-Qur’an dari Barat atau yang biasa disebut dengan nada permusuhan sebagaiorientalisitu telah banyak berjasa bagi tradisi kesejarahan Al-Qur’an. Saya bukan tidak sadar bahwa sebagian dari mereka, seperti dengan baik telah diperlihatkan oleh para kritikus orientalis semacam A.L. Tibawi dan Edward Said, adalah para sarjana yang bekerja untuk kepentingan proyek kolonialisme dan penaklukkan dunia Islam. Tapi, saya meyakini, tidak semua mereka seburuk apa yang dicurigai kaum Muslim. Dunia sekarang ini sudah sangat terbuka dan tanpa batas. Akses kepada informasi bisa diperoleh semua orang dengan mudah. Apa yang dikatakan oleh para orientalis itu bisa kita rujuk dan buktikan ke sumber-sumber aselinya. Dan ini yang saya coba lakukan dalam menulis artikel itu.

Untuk menulis artikel singkat itu, saya merujuk semua buku yang disebut para orientalis, khususnya kitab al-masahif karya Ibn Abi Daud, al-Fihrist karya Ibn Nadiem, dan al-Itqan karya al-Suyuthi. Dalam artikel itu, sengaja saya tidak menyebut nama orientalis satupun, karena saya sadar bahwa kaum Muslim memiliki apriori dan prasangka yang luar biasa pada nama-nama mereka. Saya pikir, kalau saya kutip nama-nama orientalis itu, paling-paling artikel saya akan dicampakkan begitu saja. Agaknya, ini yang pernah terjadi dengan rekan saya, Taufik Adnan Amal, yang lebih piawai, lebih ahli, dan lebih produktif dari saya dalam menuliskan sejarah Al-Qur’an. Namun, hanya karena tulisan-tulisan dia sarat dengan nama-nama seperti Jeffrey, Wansborough, dan semacamnya, tulisan-tulisan itu tampaknya tidak banyak diperhatikan orang. Di website JIL sendiri, ada tiga artikel Taufik, yang menurut saya, memiliki pesan yang sama dengan refleksi yang saya buat.

Para pengkritik dan pengecam artikel saya berusaha dengan tak sabar ingin mendengar pengakuan dari saya bahwa saya merujuk kepada orientalis, agar kemudian mereka bisa berteriak: “tuh kan Luthfi ujung-ujungnya pake orientalis.” Saya sedih jika ada yang berkomentar seperti ini. Seolah-olah, ilmu itu milik umat Islam saja, dan yang boleh meneliti sesuatu hanya orang Islam saja. Sedangkan orang lain, apalagi orang di luar Islam, meskipun mereka punya keahlian untuk itu, dianggap tak layak, dan bahkan kalau perlu dianggapnajis” yang harus dicampakkan. Padahal Sayyidina Ali jauh-jauh hari sudah mengingatkan kita: Undzur ma qaala wa la tandhur man qaala (lihat apa yang dikatakan, dan jangan lihat siapa yang berkata). Para ulama mantiq (ahli logika) jauh-jauh hari juga sudah mengingakan agar kita jangan mudah terjatuh pada apa yang mereka sebut sebagai ughluthat al-askhash (ad hominem), yakni menghukumi sebuah pendapat semata-mata melihat siapa yang berkata, dan bukan apa yang dikatakan.

Bagi saya, kajian para orientalis telah membuka banyak dimensi tak terpikirkan dari sejarah Al-Qur’an selama ini. Pada gilirannya, kerja keras dan temuan-temuan mereka bisa digunakan untuk menjelaskan apa yang selama ini menjadi concern ulama dan intelektual Muslim. Bagaimanapun, kritik teks (khususnya teks-teks suci) adalah disiplin baru yang tak memiliki preseden dalam sejarah intelektualisme umat manusia. Di masa silam, teks-teks suci dianggap sebagai korpus tertutup yang sudah selesai dan tak boleh diganggu-gugat. Siapa saja yang mencoba mengkritisinya, dia akan dianggapmurtad,” “kafir,” “zindiq,” atau istilah-istilah lain yang sejenis. Untuk membentengi kesucian dan kemaksuman kitab suci, mitos-mitos pun diciptakan, misalnya seperti masalah i’jazul Qur’an (e.g. angka 19, dll). Siapa saja yang menolak mitos-mitos ini, juga akan dicap dengan istilah-istilah seram di atas. Itulah yang terjadi dengan banyak ulama dan intelektual Muslim yang mencobamembaca” Al-Qur’an dengan perspektif lain, seperti yang dialami oleh Arkoun, Syahrour, dan Abu Zayd.

Kajian historis terhadap Al-Qur’an membantu kita, di antaranya, untuk menjelaskan persoalan-persoalan klasik hubungan antara wahyu, kitab suci, dan risalah kenabian, secara umum. Selanjutnya, masalah ini juga dapat membantu kita menjelaskan peran dan fungsi agama-agama di dunia ini bagi umat manusia. Saya menganggap kajian Al-Qur’an dengan melihatnya sebagai sebuah satu-kesatuan kitab suci dan sekaligus melihat detil-detil peristiwa kesejarahannya yang manusiawi, seperti kita memahami sejarah alam semesta. Menurut para astrofisikawan, alam semesta tak bisa dipahami kecuali kita menggabungkan dua teori utama: (i) yang berkaitan dengan hal-hal maha-besar seperti big bang, gravitasi, dan ekspansi; dan (ii) hal-hal maha-kecil seperti quantum, singularity, dan string. Begitu juga Al-Qur’an, ia tak bisa dipahami dengan baik jika kita hanya melihat satu dimensi saja dan mengabaikan dimensi lainnya. Menurut saya, dimensi historis Al-Qur’an adalah modal penting bagi kita memahami fungsi dan peran Al-Qur’an yang sesungguhnya.

Dari kajian sejarah pembentukan Al-Qur’an, kita mengetahui bahwa kitab suci ini berkembang dengan sangat dinamis, berinteraksi dengan kehidupan umat manusia, yang kadang sangat bersifat lokal dan temporal. Ayat-ayat yang dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan para sahabat Nabi, misalnya (yasalunaka anil khamr, anil ahillah, anil mahidh, dan seterusnya), adalah refleksi dari kehidupan yang dijalani Nabi dan para sahabatnya. Kasus-kasus seperti minuman keras dan menstruasi (yang disebutkan dalam ayat yasalunaka itu), adalah persolan manusia di dunia yang muncul tiba-tiba karena desakan situasi yang dihadapi para sahabat nabi saat itu. Dengan kata lain, jika tidak ada situasi yang mendesak tersebut, maka ayat-ayat tentang khamar dan menstruasi akan absen dari Al-Qur’an.

Fenomena lokal-temporal yang dijumpai dalam ayat-ayat Al-Qur’an telah lama menjadi kajian para ulama dan ilmuwan Muslim. DalamUlum al-Qur’an dan juga Ushul al-Fiqh, mereka menciptakan kaedah-kaedah yang tujuannya meuniversalkan pesan-pesan Al-Qur’an, seperti al-’ibrah bi ‘umum al-lafdh la bi khusus al-sabab (mendahulukan kata-kata yang umum di atas sebab-sebab yang khusus). Kaedah-kaedah seperti ini sangat membantu dalam menafsirkan Al-Qur’an, tapi tidak membantu dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang lebih substansial yang umumnya dihadapi oleh para filsuf Muslim di masa klasik dan intelektual Muslim di masa modern, menyangkut hubungan antara risalah kenabian, kitab suci, posisi Allah, wahyu, dan beragamnya agama-agama di dunia.

Para filsuf Muslim klasik mencoba menjelaskan persoalan-persoalan itu dengan menggunakan analisa-analisa yang rumit yang hanya dipahami oleh kalangan tertentu, khususnya mereka yang mempelajari disiplin filsafat. Al-Farabi misalnya menjelaskan proses turunnya wahyu Allah kepada Nabi Muhammad sebagai proses yang sepenuhnya bersifat psikologis (al-nafsiyyah). Agen penyampai wahyu yang umumnya disebutJibrilhanyalah salah satu daya (quwwah) saja yang ada dalam diri manusia. Setiap manusia, secara potensial (bil quwwah), memiliki daya kenabian, hanya saja intensitas kenabian itu berbeda satu dengan lainnya. Daya kenabian yang dimiliki Nabi Muhammad merupakan yang terbesar, sehingga dia mampu mengaktualisasikan wahyu Tuhan dari potensi (bil quwwah) menjadi kenyataan (bil fiil).

Dalam proses aktualisasi wahyu dari bil quwwah menjadi bil fiil ada sejumlah proses reduksi. Hal ini lumrah belaka, karena pesan-pesan Allah yang universal disampaikan dalam bentuk bahasa manusia, yakni bahasa Arab, yang tunduk pada aturan-aturan retoris, gramatis, semantik, leksikal, dan sintaks. Bahasa Arab bukanlah bahasa baru yang muncul tiba-tiba karena Al-Qur’an. Bahasa ini telah ada sejak lama dan digunakan oleh masyarakat Arabia sebagai alat komunikasi dalam interaksi sosial, bisnis, puisi, literatur, graffitti, kecaman, dan juga obrolan-obrolan porno. Puisi-puisi jahiliah yang banyak mengumbar syhawat dan pornografi diekspresikan dalam bahasa Arab. Puisi-puisi dan literatur yang dianggapmenyimpangdari Islam juga ditulis dalam bahasa Arab.

Persoalan utama Al-Qur’an, menurut saya, bukanlah persoalan penafsiran semata, tapi memahaminya sebagai sebuah produk ilahiah (al-intaj al-ilahy) yang berada dalam ruang sejarah manusia yang tidak suci dan terbatas. Teks-teks yang tertulis dalam bahasa Arab yang kemudian disebut “Al-Qur’an” adalah artikulasi manusia terhadap kalamullah yang abadi dan eternal. Kalamullah yang abadi dan eternal inilah yang terus dijaga oleh Allah, seperti dijanjikan dalam salah satu ayatnya (Inna nahnu nazzalna al-dhikra wa inna lahu lahafidhun Q.S. 15:9). Adapun Al-Qur’an, pada dasarnya adalah sesuatu --meminjam istilah para pemikir Muktazilah-- “yang diciptakan” (makhluq) dalam kebaharuan (muhdath), dan karenanya, ia tidak eternal dan tidak abadi.

Upaya koleksi, modifikasi, dan unifikasi, yang dilakukan baik oleh para sahabat maupun orang-orang yang sesudahnya adalah contoh dari proses-proses keterciptaan Al-Qur’an dalam ruang yang tidak permanen dan tidak abadi. Menurut Al-Qur’an, Allah mengutus Nabi Muhammad sebagai pembawa risalah (message), dan risalah itu bernama “Islam.” Sebagai sebuah risalah, Islam, seperti diberitakan Al-Qur’an, bukanlah agama yang baru, dan Muhammad bukanlah satu-satunya pembawa risalah. Sebelumnya, risalah itu telah disampaikan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa (Q.S. 42:13). Al-Qur’an menggunakan bahasa Arab. Tidak ada yang unik dari bahasa ini, karena seperti kata Al-Qur’an sendiri: “Tidaklah kami utus seorang rasul kecuali dengan bahasa kaumnya, agar ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka” (Q.S. 14:4). Dengan kata lain, alasan mengapa Al-Qur’an berbahasa Arab karena semata-mata ia diturunkan kepada orang-orang Arab. Tidak lebih dan tidak kurang.

Bahasa manusia adalah instrumen komunikasi yang terbatas pada budaya, tempat, dan waktu di mana ia digunakan. Kosakata dari bahasa selalu berkembang, sesuai dengan perkembangan zaman. Keterbatasan kosakata Al-Qur’an bukanlah keterbatasan pesan-pesan Allah (kalamullah) yang universal, tapi keterbatasan bahasa Arab yang tunduk pada situasi dan kondisi saat Al-Qur’an diturunkan. Sejarah pembukuan Al-Qur’an adalah sejarah pereduksian kalamullah yang universal dan eternal. Seperti juga yang terjadi pada kitab-kitab suci lainnya, seperti Taurat, Injil, Zabur, Al-Qur’an adalah manifestasi dari kalamullah yang eternal dan universal. Karena manifestasi dilakukan dalam bahasa manusia yang beragam dan tidak sempurna, maka terjadilah perbedaan-perbedaan di antara kitab-kitab suci itu (dan selanjutnya juga di antara para pemeluk agama).

Al-Qur’an sendiri adalah produk pemanusiaan (humanizing) pesan-pesan Allah (kalamullah) yang universal dan eternal. Dalam sejarahnya, ada dua tahap pemanusiaan kalamullah itu hingga menjadi bentuknya yang kita lihat sekarang. Tahap pertama adalah tahap pengaturan ayat-ayat yang diturunkan secara kronologis (tartib al-nuzul) menjadi urutan bacaan seperti kita kenal sekarang (tartib al-tilawah). Ini dilakukan pada masa Nabi dan dilengkapi pada masa Uthman bin Affan. Tahap selanjutnya adalah pemberian tanda baca (tasykil) yang dilakukan sepanjang sejarah Islam hingga digunakannya mesin cetak pada masa modern.

Seperti kita ketahui, susunan Al-Qur’an yang diturunkan secara kronologis berbeda dengan susunan yang kita lihat sekarang. Perubahan susunan ini memiliki dua dampak yang cukup penting: pertama, ia menghancurkan konteks peristiwa dan kesejarahan setiap wahyu yang diturunkan; dan kedua, ia menjadikan Al-Qur’an sebagai sebuah bacaanmagis” (karena yang ditekankan bukan makna kronologisnya, tapi struktur kebahasaannya). Dampak yang terakhir ini kemudian mendorong sebagian ulama untuk membesar-besarkan apa yang mereka sebut sebagai “i’jaz al-balaghi al-Qurani” (mu’jizat sastrawi Al-Qur’an).

Dalam tulisan saya yang ringkas itu, saya telah berusaha memperlihatkan bahwa hingga abad ke-4 (masa Ibn Nadiem dan Ibn Abi Daud) dan bahkan hingga abad ke-10 (masa Jalaluddin al-Suyuthi), persoalan penulisan dan penertiban ayat-ayat Al-Qur’an tetap menjadi isu hangat yang terus diperdebatkan. Tidak ada yang tabu bagi ulama Islam kala itu untuk mendiskusikan kesejarahan Al-Qur’an. Ibn Nadiem bebas-bebas saja membuat pernyataan bahwa Mushafnya Ibn Abbas tidak memiliki al-Fatihah, dan al-Suyuthi bebas-bebas saja meriwayatkan HadithAisyah bahwa Mushaf Uthmani telah menghilangkan surah al-Ahzab dan karenanya Al-Qur’an yang dibuat Uthman menjadi lebih ramping dari Mushaf yang dimilikinya.

Menurut saya, keyakinan akan imanensi dan permanensi Al-Qur’an, selain bertentangan dengan prinsip tauhid yang paling asasi (yakni hanya Allah yang imanen dan permanen, adapun yang lainnya hanyalah manifestasi dari kalam-Nya), juga bertentangan dengan konteks kesejarahan Al-Qur’an sendiri yang dinamis, progresif, dan manusiawi.

Mengkaji sejarah Al-Qur’an dengan melihat proses-proses pembentukannya, baik pada masa Nabi dan masa-masa sesudahnya sangat penting, untuk mengingatkan kita selalu bahwa Al-Qur’an adalah manifestasi manusiawi dari kalamullah. Seperti juga kitab-kitab suci lainnya di dunia ini, Al-Qur’an memiliki keterbatasan-keterbatasan pada lingkup kebahasaan dan kesejarahan di mana ia diturunkan. Namun demikian, sebagai sebuah manifestasi dari kalamullah, Al-Qur’an memiliki kesamaan-kesamaan dengan kitab-kitab suci lainnya (yang juga merupakan manifestasi kalamullah). Aspek kesamaan inilah (dalam bahasa Al-Qur’an disebutkalimatun sawaa”) yang harus selalu ditekankan oleh kaum Muslim secara khusus dan seluruh umat beragama secara umum.

Sabtu, 14 Agustus 2010

TAJ MAHAL

Outlying buildings

The Great gate (Darwaza-i rauza)—gateway to the Taj Mahal

The Taj Mahal complex is bounded on three sides by crenellated red sandstone walls, with the river-facing side left open. Outside the walls are several additional mausoleums, including those of Shah Jahan's other wives, and a larger tomb for Mumtaz's favorite servant. These structures, composed primarily of red sandstone, are typical of the smaller Mughal tombs of the era. The garden-facing inner sides of the wall are fronted by columned arcades, a feature typical of Hindu temples which was later incorporated into Mughal mosques. The wall is interspersed with domed chattris, and small buildings that may have been viewing areas or watch towers like the Music House, which is now used as a museum.

Interior of the Taj Mahal mosque

The main gateway (darwaza) is a monumental structure built primarily of marble which is reminiscent of Mughal architecture of earlier emperors. Its archways mirror the shape of tomb's archways, and its pishtaq arches incorporate the calligraphy that decorates the tomb. It utilizes bas-relief and pietra dura inlaid decorations with floral motifs. The vaulted ceilings and walls have elaborate geometric designs, like those found in the other sandstone buildings of the complex.

Taj Mahal mosque or masjid

At the far end of the complex, there are two grand red sandstone buildings that are open to the sides of the tomb. Their backs parallel the western and eastern walls, and the two buildings are precise mirror images of each other. The western building is a mosque and the other is the jawab (answer), whose primary purpose was architectural balance, although it may have been used as a guesthouse. The distinctions between these two buildings include the lack of mihrab (a niche in a mosque's wall facing Mecca) in the jawab and that the floors of jawab have a geometric design, while the mosque floor was laid with outlines of 569 prayer rugs in black marble. The mosque's basic design of a long hall surmounted by three domes is similar to others built by Shah Jahan, particularly to his Masjid-Jahan Numa, or Jama Masjid, Delhi. The Mughal mosques of this period divide the sanctuary hall into three areas, with a main sanctuary and slightly smaller sanctuaries on either side. At the Taj Mahal, each sanctuary opens onto an enormous vaulting dome. These outlying buildings were completed in 1643.

Selasa, 15 Juni 2010

Ramalan Bintang Taurus 7-13 Juni 2010

Saling pegertian sangat dibutuhkan pada hubungan Anda yang agak kurang harmonis. Cobalah untuk saling terbuka. Jangan pernah mendahulukan urusan pribadi Anda dalam bekerja. Loyalitas Anda sedang dituntut dalam perusahaan. Hati-hati jika berada pada suasana yang ramai, Anda akan mudah pusing. Sebaiknya segera periksakan ke dokter.

Cinta : Perlu pengorbanan
Keuangan: Bisa ditabung
Kesehatan: Flu ringan

Ramalan Bintang Aries 7-13 Juni 2010

Janji yang telah Anda ukir berdua dengan pasangan Anda, ternyata hanya isapan jempol. Sepertinya akan putus di tengah jalan. Pertanda yang baik untuk Anda pada minggu ini, karena Anda banyak mengalami kemajuan yang pesat dalam bekerja. Sukses akan Anda raih. Sebelum Anda mendapatkan penyakit ada baiknya Anda menghindarinya. Hal ini dikarenakan pola hidup Anda yang tidak pernah teratur, sempatka untuk berolahraga.

Cinta : Romantis
Keuangan: Sedang dapat bonus
Kesehatan: Gatal-gatal

Ramalan Bintang Pisces 7-13 Juni 2010

Hanya tinggal menunggu waktu saja Anda dan pasangan akan bahagia selamanya. Di antara kalian berdua harus bersikap dewasa bila sudah menikah nanti. Apakah Anda sudah yakin dengan keputusan yang telah dibuat? Bila iya, berarti Anda sudah harus siap dengan yang akan terjadi pada karier. Keputusan harus diikuti dengan kata hati. Hati-hati dengan kondisi kesehatan, ada gangguan di sekitar perut dan pernapasan. Mungkin disebabkan oleh makanan dan cuaca yang perubahannya tidak tentu.

Cinta : Jangan sampai terpisah
Keuangan: Jangan pelit
Kesehatan: Sakit Kepala

Ramalan Bintang Aquarius 7-13 Juni 2010

Anda harus berani mengambil sikap demi lancarnya hubungan. Jangan pernah menunda keputusan yang sudah Anda ambil. Jangan terlalu ikut campur urusan orang lain, nanti Anda malah akan jadi kambing hitam. Sebaiknya urusi urusan Anda yang sangat padat itu, dan cari bantuan bila dibutuhkan. Anda sering merasa lapar meskipun baru saja makan. Sebaiknya kebiasaan ini jangan diteruskan, hal ini dapat membuat Anda malas karena kegemukan.

Cinta : Komunikasi membaik
Keuangan: Hemat
Kesehatan: Nyeri pada Kepala

Ramalan Bintang Capricorn 7-13 Juni 2010

Sepertinya hubungan Anda akan mengarah lebih serius. Selamat dan jaga selalu kesetian Anda. Waktunya untuk berpikir masa depan, Anda sudah terlalu lama pada posisi tersebut. Usahakan untuk menunjukkan kemampuan karena Anda bukanlah orang sembarangan. Tidak ada keluhan yang perlu dikhawatirkan, sebisa mungkin hiduplah apa adanya. Jangan memaksakan sesuatu yang dapat membahayakan kondisi kesehatan Anda.

Cinta : Makin romantis
Keuangan: Bayar utang
Kesehatan: Alergi debu

Ramalan Bintang Sagitarius 7-13 Juni 2010

Kehadiran cinta lama di hati sangat mengganggu tidur Anda. Coba untuk memilih mana yang terbaik bagi Anda. Jangan sampai salah pilih. Anda sepertinya memilih-milih dalam mencari pekerjaan, hal ini akan menghambat perubahan nasib terkait karier. Kesempatan tidak akan datang dua kali. Jangan cemburu melihat postur tubuh teman yang cukup ideal. Anda harus dapat mensyukuri ada sekarang ini, yang penting Anda selalu sehat.

Cinta : Putus nyambung
Keuangan: Membaik
Kesehatan: Jantung lemah

Ramalan Bintang Scorpio 7-13 Juni 2010

Jadilah pasangan yang setia, Anda harus mencoba demi kemesraan yang sedang bersemi. Karier Anda sekarang akan dilanda goncangan hebat. Anda harus tepat dalam mengambil keputusan. Sebab, bila tidak akan fatal akibatnya. Cari teman untuk bertukar pikiran. Hati-hati dengan angin malam, hal ini cukup mempengaruhi kondisi kesehatan. Sebisa mungkin jangan keluar malam hari, bila memang tidak penting.

Cinta : Lebih baik
Keuangan: Kantong kosong
Kesehatan: Radang tenggorokan

Ramalan Bintang Libra 7-13 Juni 2010

Persiapan Anda belum terlalu matang untuk menempuh hidup baru, karena satu sama lain masih mementingkan diri sendiri. Coba sama-sama koreksi diri. Jangan sia-siakan waktu yang belakangan ini kurang dihargai. Hari ini adalah saat yang baik untuk melakukan sesuatu yang lebih berharga, kembalikan semangat kerja Anda. Sepertinya Anda kekurangan vitamin, terutama vitamin C. Hal ini terlihat dari seringnya Anda mendapatkan penyakit yang diakibatkan oleh kurangnya vitamin ini.

Cinta : Hampir Putus
Keuangan: Lebih boros
Kesehatan: Gigi berlubang

Ramalan Bintang Virgo 7-13 Juni 2010

Terlalu banyak permintaan dari pasangan Anda. Cobalah untuk sedikit menahan emosi, jangan terlalu di ambil pusing. Tetapi, cari solusinya. Sangat dipastikan karier Anda tidak akan berkembang bila Anda tidak melakukan perubahan apapun dalam pola kerja. Kondisi tubuh mengalami gangguan, kelebihan kolesterol. Hal ini karena Anda kurang memperhatikan jenis makanan, hati-hati penyakit berbahaya.

Cinta : Kurang bergairah
Keuangan: Lunasi utang yang ada.
Kesehatan: Nyeri pada dada

Ramalan Bintang Leo 7-13 Juni 2010

Sepertinya lebih baik berteman daripada ada hubungan khusus di antara kalian berdua. Tidak enak berhubungan dengan sesama teman kantor. Lakukan hal yang terbaik pada tahun ini untuk pekerjaan Anda demi nama baik perusahaan, jangan lalaikan tugas itu. Anda perlu jadwal ulang rencana untuk berkonsultasi dengan dokter. Hal ini karena ada keperluan mendadak yang sangat penting. Hati-hati, jangan tunda terlalu lama.

Cinta : Makin sayang
Keuangan: Cari pinjaman
Kesehatan: Makan makanan berprotein

Ramalan Bintang Cancer 7-13 Juni 2010

Perlihatkan sikap baik Anda walaupun hubungan telah berakhir. Jangan terlalu dibawa perasaan yang berlebihan. Hasil yang tertunda pada tahun lalu harusnya Anda jadikan pelajaran pada tahun ini. Cobalah untuk lebih semangat dalam bekerja. Jangan memaksakan untuk terus beraktivitas hingga larut malam. Hal ini akan membuat Anda rawan mendapatkan penyakit yang tidak diinginkan.

Cinta : Pahami sifatnya
Keuangan: Stabil
Kesehatan: Bengkak pada gusi

Ramalan Bintang Gemini 7-13 Juni 2010

Jadilah pasangan yang setia, Anda harus mencoba demi kemesraan yang sedang bersemi. Karier Anda sekarang akan dilanda goncangan hebat. Anda harus tepat dalam mengambil keputusan. Sebab, bila tidak akan fatal akibatnya. Cari teman untuk bertukar pikiran. Hati-hati dengan angin malam, hal ini cukup mempengaruhi kondisi kesehatan. Sebisa mungkin jangan keluar malam hari, bila memang tidak penting.

Cinta : Lebih baik
Keuangan: Kantong kosong
Kesehatan: Radang tenggorokan